Tahun 2011, Semua Bangunan Sekolah Terapkan Green School

JAKARTA, KOMPAS.com -  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mewajibkan seluruh gedung sekolah pada tahun 2011 menerapkan green school building. Ini merupakan upaya Pemprov DKI Jakarta melaksanakan green property, selain menerapkan konsep green buliding standard pada gedung-gedung tinggi di ibu kota.
Tahun 2010 ini, ada dua gedung sekolah yang dijadikan proyek percontohan yaitu, sebuah SD di Semanan, Jakarta Barat dan SMPN 1 Cikini, Jakarta Pusat. Kedua sekolah ini dibangun dengan menerapkan green building secara utuh.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengatakan, mulai tahun ini hingga tahun depan, Pemprov DKI akan menerapkan green building standard untuk bangunan sekolah, baik tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK). Sebab DKI ingin menjadikan gedung-gedung sekolah sebagai contoh dan teladan yang baik untuk seluruh bangunan yang akan didirikan di ibu kota.
“Kalau pemerintah saja bisa mendirikan bangunan sekolah dengan menerapkan green building standard maka tidak ada alasan pihak lain tidak bisa menerapkan hal tersebut,” kata Fauzi Bowo di Jakarta, Sabtu (8/5).

Pembangunan green school building akan dipusatkan dengan konsep penghematan energi listrik, penggunaan air yang bisa didaur ulang, dan pemanfaatan limbah sesuai dengan kaidah-kaidah lingkungan. Untuk bahan bangunan gedung sekolah, akan diupayakan menggunakan bahan eco- friendly (ramah lingkungan). Termasuk di dalamnya tidak terlalu banyak menggunakan kayu. Karena akan mengakibatkan penebangan pohon di hutan secara tidak bertanggung jawab.

Menurutnya, konsep green school building merupakan bagian proses pendidikan lingkungan kepada siswa, sehingga mau tidak mau siswa yang sekolahnya sudah berorientasi lingkungan dan mengadaptasi kaidah lingkungan tadi harus memahami pentingnya mencintai dan pelestarian lingkungan.
“Ini juga dapat membantu pembentukan karakter siswa dan manusia Indonesia untuk mencintai lingkungan dan bertanggung jawab melestarikan lingkungan. Barangkali Jakarta kota pertama yang menerapkan konsep ini,” tuturnya.

Terkait konsep green school building, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan DKI, Didi Sugandhi, mengatakan, sebenarnya sudah cukup banyak gedung sekolah yang telah menerapkan konsep tersebut. “Gedung sekolah lainnya sudah menerapkan konsep green school tapi belum secara menyeluruh,” kata Didi.

Menurutnya, masing-masing sekolah mulai menerapkan untuk meminimalisir penggunaan listrik, kemudian mengoptimalkan sinar tata surya untuk energi listrik. Selain itu akan memaksimalkan limbah cair sehingga bisa digunakan kembali dan membuat lubang biopori.

Biaya perawatan lebih murah
Memang anggaran pembangunan gedung sekolah berkonsep green school building lebih mahal daripada biaya membangun gedung biasa. Namun, biaya pemeliharaannya lebih murah dibandingkan gedung biasa. Untuk tahun ini, rencananya ada 42 gedung sekolah yang akan direhab total oleh Dinas Pendidikan DKI. Seluruhnya tentu akan menerapkan konsep green school building. “Targetnya tahun 2011 seluruh gedung sekolah sudah berkonsep green building,” ujarnya.

Kepala Dinas Perumahan DKI, Agus Subardono, mengatakan, untuk menerapkan konsep green building secara utuh, satu bangunan sekolah bisa menelan biaya antara Rp 9 miliar hingga Rp 19 miliar. Sejumlah anggaran itu, Rp 5 miliar di antaranya hanya untuk pembelian solar cell dengan kapasitas daya 6000 watt. Jumlah tersebut belum mencakup rehab konstruksi bangunan yang menelan biaya antara Rp 4 miliar hingga Rp 14 miliar.

“Namun penerapan green building pada sekolah tidak menggunakan solar cell seluruhnya. Hanya beberapa kelas. Sisanya bagaimana bangunan itu didesain agar bisa hemat energi,” katanya. Misalnya lebih banyak menggunakan jendela, ventilasi, dan mengurangi penggunaan air conditioner (AC). Selain itu, penggunaan air secara hemat, pengolahan sampah sendiri dan lebih banyak menggunakan kayu pada konstruksi bangunannya. (Berita Jakarta)

Editor: ksp

Sumber : http://properti.kompas.com/read/xml/2010/05/10/19143448/tahun.2011.semua.bangunan.sekolah.terapkan.green.school. 

Green Building yang Jadi Tren di 2010

Jika Anda sering memperhatikan model-model hunian baru yang ditawarkan oleh para pengembang (developer) akhir-akhir ini, maka Anda akan melihat semakin banyak konsep hunian yang ramah lingkungan (green concept). Dan pada tahun 2010 ini, desain rumah yang ramah lingkungan akan menjadi tren yang dikembangkan oleh para arsitek dan desain interior. Meski dominasi model rumah minimalis tetap menjadi favorit, tapi kini desainnya lebih mengacu pada desain yang ramah lingkungan. Hal ini tentu sebagai dampak dari krisis pemanasan global yang sedang dihadapi oleh dunia. Tapi sayangnya, masih banyak orang yang belum tahu persis apa yang disebut dengan bangunan ramah lingkungan (green building) itu.
Desain hijau
Green architecture atau desain yang “hijau” sebenarnya tidak mengacu ke satu jenis desain, tetapi lebih mengarah kepada desain dan proses penggunaan bangunan yang ramah lingkungan, sekaligus bisa menjaga kelestarian sumber daya alam dengan cara mengefisiensikan penggunaan listrik maupun air selama bangunan tersebut digunakan.
Tujuan utama dari green building ini adalah mengurangi dampak negatif sebuah bangunan terhadap lingkungan dan kesehatan penghuninya. Yang menjadi ciri dari sebuah green building di antaranya adalah lebih banyak ruang terbuka untuk tanaman sehingga perbandingan antara bangunan dan ruang terbuka lebih harmonis. Lalu seperti apa sebenarnya ciri-ciri hunian yang ramah lingkungan itu?
Tiga konsep green
Ciri-ciri konsep green ini, pertama: rumah memiliki banyak bukaan seperti jendela-jendela yang besar dan tinggi. Dengan banyak bukaan, rumah akan lebih banyak mengadopsi udara dan cahaya alami sekaligus mengurangi penggunaan energi listrik pada siang hari.
Kedua, bangunan-bangunannya lebih tinggi, yakni plafon yang dibuat lebih dari tiga meter. Desain seperti ini tidak hanya membuat rumah menjadi hemat energi, tapi juga memberi kesan mewah dan megah, yang biasanya diterapkan di ruang bersama seperti ruang keluarga dan ruang tamu.
Ciri ketiga, biasanya konsep seperti ini kerap memanfaatkan banyak lansekap, seperti taman di area depan maupun belakang rumah.
Dan jika tiga konsep green tadi terlalu sulit untuk Anda lakukan, Anda bisa mulai dengan memanfaatkan cahaya alami dan meminimalkan ketergantungan pada teknologi. Karena sebenarnya kita sudah dibiasakan untuk ”toleransi-toleransi” tertentu, seperti penggunaan AC, penggunaan listrik di siang hari, dan perilaku-perilaku lain sehingga sulit untuk mengubahnya. Jadi, mulai sekarang kita harus menghilangkan ”toleransi” tersebut dan kembali ke kehidupan nyata kita. Cara yang paling praktis adalah mengurangi penggunaan AC, mengurangi penggunaan lampu pada siang hari, dan ubah gaya hidup Anda.
Merry Sondang/berbagai sumber
Foto: doc.net